Contoh pengabdi masyarakat
Kisah
Bidan Agnes di Pedalaman Boven Digul, Papua
Tribun
Kaltim
Jumat, 29 Juni 2012 13:11
WITA
BERTUGAS
pada puskesmas pembantu di pedalaman Boven Digoel, Papua, tidak membuat bidan
Agnes Barabara Kundimgo kesepian dan menyerah. Ia bahkan menikmati dan
tertantang menolong kebiasaan persalinan berisiko yang masih dilakoni
masyarakat pedalaman Papua.
Memotong
tali pusar bayi menggunakan parang, pisau dapur, sampai pecahan kaca itu biasa
dilakukan masyarakat di pedalaman,” kata Agnes.
Peralatan
seadanya memunculkan faktor risiko infeksi yang dapat mengakibatkan kematian
bayi ataupun si ibu. Perdarahan dan infeksi menjadi penyebab langsung utama
kematian ibu melahirkan.
Masyarakat
di pedalaman juga masih memegang tradisi melahirkan harus di luar rumah utama.
Darah dari persalinan dianggap sebagai darah kotor yang tidak boleh mencemari
rumah. Jika sampai setetes darah itu mengenai rumah utama, dipercaya kesialan
atau musibah akan terjadi.
Keluarga
itu, misalnya, akan susah mendapat buruan rusa di hutan atau ikan di rawa.
Karena itu, adat setempat menekankan, perempuan hamil harus bersalin di luar
rumah. Biasanya si ibu dibuatkan pondok dari ranting kayu seadanya di halaman
belakang rumah atau di hutan.
Ibu
dan bayinya baru boleh kembali ke rumah setelah benar-benar bersih. Persalinan
itu biasanya dibantu dukun beranak atau orangtua. ”Biasanya setelah seminggu
melahirkan, baru ibu dan bayinya dibolehkan masuk rumah,” ungkap Agnes.
Ketika
hendak mencegah praktik itu dan menolong persalinan dengan keahlian kebidanannya
demi keselamatan bayi dan si ibu, ia justru dilarang dengan alasan adat dan
tradisi. Namun, Agnes berkeras tetap mendampingi persalinan dan bersiap-siap
jika terjadi kemungkinan terburuk.
”Mereka
jarang memanggil bidan. Kalaupun ada warga yang memanggil bidan, tetap tidak
mau dibantu,” ujarnya.
Ia
pernah diminta membantu persalinan, tetapi baru dipanggil setelah kepala si
bayi mulai keluar. Ia bersyukur persalinan berjalan baik sehingga ibu dan
bayinya selamat.
Pendekatan
dan penyuluhan kesehatan pun ia lakukan. Seiring dengan berjalannya waktu,
upaya itu berhasil. Masyarakat di tempatnya bertugas mulai percaya kepadanya
untuk menolong setiap persalinan.
Panggilan
jiwa
Agnes
bertugas di Puskesmas Pembantu Kampung Maryam, Distrik Mandobo, mulai tahun 1996
hingga 2004. Bertugas di puskesmas pembantu kampung pedalaman itu ia jalani
dengan sepenuh hati.
Baginya,
menjadi bidan adalah panggilan jiwa. Karena itu, di mana pun ditugaskan, ia
berusaha mengabdi sebaik mungkin. Puskesmas Pembantu Maryam, misalnya,
berlokasi relatif jauh dari Tanah Merah, ibu kota Boven Digoel.
Ia
tidak tahu pasti berapa kilometer jaraknya. Yang ia tahu, perjalanan ke Tanah
Merah harus ditempuh melalui sungai dan mendayung perahu selama empat hari. Hal
itu dijalaninya bersama petugas puskesmas pembantu yang lain setiap kali mereka
hendak mengambil stok obat-obatan, menyampaikan laporan kegiatan, atau
mengambil gaji bulanan.
Kalau
hari beranjak malam, ia menepi dan menginap di bivak-bivak di pinggir sungai.
Beban menjadi lebih ringan saat mereka mendapat bantuan operasional perahu
bermotor.
Tahun
2004-2011, Agnes ditugaskan di Puskesmas Tanah Merah dan mulai tahun lalu
bertugas di RSUD Boven Digoel.
Menjadi
bidan adalah keinginan Agnes sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, ia dimintai tolong
ibunya, Dortea Warawam, yang sedang membantu persalinan kakak perempuan Agnes.
”Mama
bilang, ’Agnes, tolong potong tali pusar dengan gunting.’ Itu pengalaman yang
luar biasa,” ungkapnya.
Sejak
itulah tumbuh kuat dalam dirinya cita-cita menjadi bidan karena ingin menolong
persalinan. Selepas SMP, Agnes remaja lantas mengikuti seleksi pendidikan
kebidanan di Merauke dan dinyatakan lulus.
Selama
16 tahun ia menjadi bidan, sudah tidak terhitung berapa jumlah ibu bersalin
yang telah dibantunya. Siang itu, misalnya, di RSUD Boven Digoel, Agnes tengah
membantu menolong seorang pasien yang mengalami abortus (keguguran). Ia
mengantarkan pasien itu ke rumah sakit dengan menumpang angkutan kota.\
Harap
maklum, di Boven Digoel, ambulans adalah barang langka. Sopirnya tidak bisa
diminta atau dipanggil saat ada keadaan darurat. Pasien yang sedang hamil tiga
bulan tersebut sebulan lalu datang kepadanya untuk memeriksakan kehamilan.
”Saat
itu keluar bercak-bercak darah dari pasien. Kandungannya tidak kuat. Saya sudah
melarang dia kerja dulu, tetapi beberapa hari lalu dia mulai kerja lagi,” kata
istri Cornelius Frans Wigo ini. Kelancaran tugas Agnes ditopang profesi sang
suami sebagai mantri di Instalasi Gawat Darurat RSUD Boven Digoel.
Angka
kematian tinggi
Selama
ini, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di pedalaman Boven
Digoel masih rendah. Hal ini berkaitan erat dengan belum tersedianya fasilitas
kesehatan yang bermutu, merata, dan mudah dijangkau masyarakat, juga kurangnya
tenaga kesehatan.
Selain
itu, faktor geografis dan transportasi yang sulit pun turut berperan. ”Angka
kematian bayi di daerah pedalaman masih tinggi,” ungkapnya.
Data
Dinas Kesehatan Boven Digoel menunjukkan, tahun 2011, kematian bayi tercatat 21
kasus, abortus 19 kasus, kematian anak balita 9 kasus, dan kematian ibu 2
kasus. Angka ini bisa jadi lebih tinggi karena masih banyak kampung di
pedalaman yang jauh dari jangkauan tenaga kesehatan sehingga tak tercatat.
Kesadaran
memeriksakan kehamilan di kalangan ibu hamil juga masih rendah. Berdasarkan
data Dinas Kesehatan Boven Digoel, tahun 2011, kunjungan pemeriksaan kehamilan
pada usia kehamilan 0-12 minggu sebanyak 6.052 ibu hamil. Akan tetapi, pada
usia kehamilan 3 bulan ke atas, kunjungan pemeriksaan merosot menjadi hanya 730
ibu hamil. Hal itu semakin menambah risiko saat melahirkan.
Dari
1.036 kunjungan ibu hamil dengan faktor risiko, yang terbanyak adalah jarak
kehamilan kurang dari dua tahun, yakni 24,32 persen. Kasus gizi buruk pun
semakin menambah deretan persoalan kesehatan di daerah itu. Pada 2011, anak
balita gizi buruk tercatat sebanyak empat orang.
Berbagai
persoalan itu masih menjadi tugas berat bagi bidan Agnes dan tenaga kesehatan
lain di Boven Digoel. Bagi Agnes, panggilan hidupnya sebagai bidan akan selalu
dilakoni dengan semangat pengabdian untuk terus menolong.